Saya tahu menunda-nunda itu jelek, tapi saya belum tahu apa efek pastinya, karena terkadang meskipun saya menunda-nunda tetap saja saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.
Tetapi masalah terlalu banyaknya kegiatan yang saya ambil ternyata memberikan ide baru bagi saya. Ini sebenarnya simple, hanya baru sekarang saya bisa mengungkapkannya dalam kata-kata.
Saya sebagai manusia tentunya memiliki waktu yang terbatas, 24 jam sehari, dikurangi tidur 6,5 jam. Dengan batasan waktu tersebut, mustahil bagi saya untuk mengambil semua kegiatan yang ada. Kegiatan di sini misalnya kuliah, bekerja, belajar, dll. Akibat dari terlalu banyaknya kegiatan yang saya ambil adalah … ya … seperti yang saya bahas di postingan kemarin: banyak janji yang tidak saya tepati, banyak komitmen yang tak terpenuhi.
Karena memiliki batasan waktu dan tenaga, saya menentukan maksimal saya hanya mampu berkonsentrasi 4 kegiatan secara bersamaan,–dengan kata lain saya hanya memprioritaskan 4 kegiatan itu–dan baru bisa mengambil kegiatan lain bila satu dari keempat kegiatan itu telah selesai.

Dalam kondisi seperti itu, menunda-nunda dapat berarti saya tidak dapat mengambil lebih banyak kegiatan dalam sehari, mengapa? Karena dengan menunda-nunda, 4 kegiatan prioritas itu akan membutuhkan waktu lebih lama untuk keluar dari kotak, akibatnya kegiatan baru tidak akan bisa masuk dalam daftar prioritas saya.
Kesimpulannya, kebiasaan menunda-nunda bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan karena efeknya bukan hanya memperlambat selesainya kegiatan yang saat ini dilakukan, melainkan juga mengurangi jumlah kegiatan yang mungkin kita lakukan setiap hari. Ketika mulai muncul niat untuk menunda-nunda sesuatu, saya akan berpikir tentang box-box itu dan berusaha mengosongkan mereka secepatnya.
Recent Comments