22Aug#22 External Link: Startup Mistakes

Apa keuntungan menjadi pengusaha?
Saya yakin kita semua pasti bisa menyebutkannya dengan mudah. Hampir semua seminar kewirausahaan yang kita ikuti menyebutkan kenikmatan menjadi pengusaha dan sedikit sekali yang membahas risiko kegagalan usaha (kalau pun ada biasanya diikuti oleh kisah bagaimana si orang gagal tersebut akhirnya menjadi sukses). Namun mari kita hadapi kenyataan–pengusahaan yang gagal itu ada, dan banyak. Beberapa pengusaha bahkan gagal sedemikian parah sampai kehilangan segalanya: harta habis, terlilit utang, stres. Hal tersebut menjadi alasan mengapa kita sebagai calon pengusaha perlu berhati-hati, memperhitungkan risiko dengan baik, dan belajar dari kesalahan baik kesalahan diri sendiri maupun orang lain.
Melalui pencarian ekstensif, saya mengumpulkan beberapa artikel yang membahas tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan pengusaha dalam mengelola bisnisnya yang masih muda.

03Aug#19 Quest to Maximize Productivity

Saya merindukan masa-masa di mana saya bekerja sangat produktif. Ketika itu saya bisa menghasilkan 2-3 karya perhari. Sekarang di saat-saat saya memiliki banyak task, saya ingin menjadi seperti itu lagi. Karenanya saya mempelajari apa yang membuat saya dapat bekerja keras dan tidak mengenal lelah seperti kala itu.

1. Tidak terlalu banyak kegiatan

Ketika itu, saya sedang menjalani cuti akademis. Otomatis karena cuti, saya tidak memiliki banyak kegiatan selain internet dan Miracle. Namun sebagai hasilnya pekerjaan saya benar-benar terfokus pada dua hal itu. Saya melakukan banyak pekerjaan untuk sedikit hal, akibatnya saya terlihat produktif.

2. Tidak terlalu banyak task yang membebani pikiran

Task yang saya dapatkan ketika itu hanya dari Miracle, sehingga tidak ada dua hal yang sama pentingnya dan mudah sekali mengatur prioritas. Sementara hari ini saya menerima task dari berbagai sumber, terkadang dua task dari dua sumber yang berbeda tersebut memiliki tingkat kepentingan yang sama-sama tinggi sehingga sulit bagi saya untuk mengatur prioritas.

Untuk menyelesaikan hal ini, lagi-lagi solusinya adalah mengurangi komitmen yang saya buat. Untungnya saya belum terlambat untuk membatalkan rencana saya mengajar di Primagama, dan sekarang hendak mengirimkan pengunduran diri dari perguruan karate saya. Dengan demikian task yang saya miliki dapat berkurang.

Ke depannya saya berharap hanya terkonsentrasi pada dua hal saja: Kuliah dan Revonation. Saya tidak mau memikirkan hal lain karena justru itu dapat menjerumuskan saya pada lingkaran setan penurunan produktivitas yang saya alami saat ini.

26Jul#17 Menunda-nunda dan Produktivitas

Saya tahu menunda-nunda itu jelek, tapi saya belum tahu apa efek pastinya, karena terkadang meskipun saya menunda-nunda tetap saja saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.

Tetapi masalah terlalu banyaknya kegiatan yang saya ambil ternyata memberikan ide baru bagi saya. Ini sebenarnya simple, hanya baru sekarang saya bisa mengungkapkannya dalam kata-kata.

Saya sebagai manusia tentunya memiliki waktu yang terbatas, 24 jam sehari, dikurangi tidur 6,5 jam. Dengan batasan waktu tersebut, mustahil bagi saya untuk mengambil semua kegiatan yang ada. Kegiatan di sini misalnya kuliah, bekerja, belajar, dll. Akibat dari terlalu banyaknya kegiatan yang saya ambil adalah … ya … seperti yang saya bahas di postingan kemarin: banyak janji yang tidak saya tepati, banyak komitmen yang tak terpenuhi.

Karena memiliki batasan waktu dan tenaga, saya menentukan maksimal saya hanya mampu berkonsentrasi 4 kegiatan secara bersamaan,–dengan kata lain saya hanya memprioritaskan 4 kegiatan itu–dan baru bisa mengambil kegiatan lain bila satu dari keempat kegiatan itu telah selesai.

Dalam kondisi seperti itu, menunda-nunda dapat berarti saya tidak dapat mengambil lebih banyak kegiatan dalam sehari, mengapa? Karena dengan menunda-nunda, 4 kegiatan prioritas itu akan membutuhkan waktu lebih lama untuk keluar dari kotak, akibatnya kegiatan baru tidak akan bisa masuk dalam daftar prioritas saya.

Kesimpulannya, kebiasaan menunda-nunda bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan karena efeknya bukan hanya memperlambat selesainya kegiatan yang saat ini dilakukan, melainkan juga mengurangi jumlah kegiatan yang mungkin kita lakukan setiap hari. Ketika mulai muncul niat untuk menunda-nunda sesuatu, saya akan berpikir tentang box-box itu dan berusaha mengosongkan mereka secepatnya.

25Jul#16 Membaca

Beberapa bulan yang lalu saya merasa penasaran dengan cara belajar saya. Saya khawatir selama ini saya belajar dengan cara yang salah, sebab berpuluh-puluh buku yang telah saya baca, tak satu pun yang saya ingat secara komprehensif. Namun untungnya saya mendapatkan jawaban atas permasalahan ini.

Apa yang saya mengerti kini adalah proses belajar baru efektif bila dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Dengan teknik seperti itu, saya bisa mengingat apa yang saya pelajari kemarin karena belum terlalu lama berselang, kemudian menggabungkannya dengan ilmu yang saya dapat hari ini; akibatnya ilmu yang saya dapat lebih lengkap dan komprehensif. Berbeda misalnya ketika saya membaca buku di hari minggu, lalu saya membaca lagi seminggu kemudian; otak saya akan sulit mengingat apa yang telah baca karena perbedaan waktunya terlalu jauh. Akibatnya ingatan saya terputus-putus, ide dan pelajaran yang saya dapatkan tidak lengkap sehingga pada suatu titik saya akan lupa dengan apa yang saya baca.

Teknik lainnya yang saya rasa akan membantu saya belajar lebih banyak adalah dengan mempersempit bidang ilmu yang saya baca. Penyempitan topik ini untuk mengakali terlalu sedikitnya waktu yang saya miliki untuk membaca. Namun saya perlu berhati-hati karena penyempitan topik ini juga dapat membuat saya menjadi orang yang closed-minded dan tidak bisa mencipta. Di dunia yang kompleks ini tidak ada satu bidang ilmu yang berdiri sendiri; misalnya marketing ada unsur psikologinya, ada unsur statistiknya, ada unsur desainnya juga. Hanya mempelajari satu topik saja mungkin akan membuat pengetahuan yang saya miliki berkembang, namun saya tidak akan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Saya tidak akan mampu menciptakan metode baru atau langkah-langkah kreatif karena ilmu yang saya miliki tidak menyeluruh.

Dengan mengembangkan teknik-teknik belajar itu, saya bisa memanfaatkan waktu membaca saya dengan lebih efektif dan mampu menggunakan ilmu yang telah saya dapatkan dari membaca.

20Jul#14 Terlalu Banyak Mengambil Kesempatan

Saya baru menyadari kalau selama ini saya terlalu banyak berusaha mengambil kesempatan. Saya tak banyak memikirkan apakah saya akan memiliki waktu untuk melakukannya dan seringkali saya malah terkepung sendiri oleh puluhan janji dan komitmen yang saya buat untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan itu, akibatnya banyak janji yang tidak saya tepati, banyak komitmen yang tak terpenuhi. Yang terjadi selanjutnya adalah saya kehilangan kepercayaan dan merasa down karena gagal menepati janji; karena down, pikiran terganggu,  produktifitas saya jadi berkurang, sehingga lebih banyak lagi janji yang tidak ditepati … jatuh lah saya ke dalam lingkaran setan yang tidak ada habisnya.

Sekarang saya hanya berharap mendapatkan liburan untuk dapat menyelesaikan semua janji saya, mengurangi beberapa komitmen (kemungkinan saya akan berhenti berlatih karate), dan sementara menolak membuat komitmen baru; apa pun bentuknya.


Recent Comments

Recent Listening