Satu hal yang sering dilupakan startup saat hiring karyawan penuh waktu adalah kesiapan infrastruktur organisasional perusahaan itu sendiri, terutama yang terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia.

Karyawan penuh waktu yang datang tidak hanya membawa kemampuan dan tenaga tambahan, tetapi juga karakter, sifat, dan — yang paling penting — budaya (etos kerja, norma, value) yang dapat mempengaruhi budaya perusahaan. Bila tidak dikelola dengan baik, budaya buruk dapat masuk dan mempengaruhi moral seluruh tim.

Probasi merupakan pertahanan pertama dari budaya yang kurang baik. Dalam startup, probasi seringkali dilupakan atau hanya menjadi sekedar formalitas. Meski banyak startup yang sudah menerapkannya, namun berjalan secara organik tanpa memiliki ukuran obyektif.

Ini menimbulkan risiko, karena masalah yang sesungguhnya justru muncul setelah yang bersangkutan bekerja lebih dari 3 bulan (masa probasi maksimal yang ditetapkan pemerintah adalah 3 bulan).

Di awal masa kerja, seseorang cenderung mengikuti lingkungannya; sifat yang sebenarnya dapat muncul ketika seseorang tersebut mulai merasa nyaman. Secara organik, sulit melihat karakter seseorang hanya dalam waktu tiga bulan. Karena itu, perlu disusun sebuah tes dengan membuat simulasi tantangan yang dihadapi oleh karyawan setidaknya satu tahun ke depan.

Selain itu, masa probasi harus digunakan secara maksimal oleh tim manajerial, khususnya yang menjadi atasan langsung, untuk mengenal lebih jauh mengenai karyawan bersangkutan, tidak hanya secara professional, tetapi juga personal, yang di kemudian hari dapat membantu untuk memutuskan apakah budaya yang bersangkutan sesuai dengan budaya yang ingin dibangun perusahaan.

Iklan